Minggu, 30 Oktober 2016

Strategi Pembelajaran Inquiry Dalam PAI

BAB I
PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang
Strategi pengajaran adalah keseluruhan metode dan prosedur yang menitik beratkan pada kegiatan siswa dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam konteks strategi pengajaran tersusun hambatan-hambatan yang dihadapi, tujuan yang hendak dicapai, materi yang hendak dipelajari, pengalaman-pengalaman belajar, dan prosedur evaluasi. Peran guru lebih bersifat fasilitator dan pembimbing. Dengan strategi pengajaran diharapkan semua potensi siswa dapat berkembang sesuai dengan latar belakang usia dan latar belakang lainnya dari masing-masing individu siswa. Jadi sistem belajar lebih terbuka.[1]
Strategi pembelajaran inkuiri banyak dipengaruhi oleh aliran belajar kognitif. Menurut aliran ini, belajar pada hakikatnya adalah proses mental dan proses berpikir dengan memanfaatkan segala potensi yang dimiliki setiap individu secara optimal. Belajar lebih dari sekadar proses menghafal dan menumpuk ilmu pengetahuan, tetapi membuat pengetahuan yang diperoleh bermakna untuk siswa melalui keterampilan berpikir.[2]

B.  Rumusan Masalah
                1.            Apa pengertian pembelajaran Inquiry ?
                2.            Apa tujuan pembelajaran Inquiry ?
                3.            Bagaimana aplikasi pembelajaran Inquiry pada kegiatan pembelajaran PAI ?
                4.            Apa saja langkah-langkah pembelajaran Inquiry ?



BAB II
PEMBAHASAN


A.  Pengertian Pembelajaran Inquiry
Pembelajaran adalah sesuatu yang dilakukan oleh siswa, bukan dibuat untuk siswa.[3] Pembelajaran terkait dengan bagaimana (how to) membelajarkan siswa atau bagaimana membuat siswa dapat belajar dengan mudah dan terdorong oleh kemauannya sendiri untuk mempelajari apa (what to) yang teraktualisasikan dalam kurikulum sebagai kebutuhan (needs) peserta didik.[4]
Menurut Slamento metode Inquiry adalah cara penyampaian bahan pengajaran dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar mengembangkan potensi intelektualnya dalam jalinan kegiatan yang disusunnya sendiri untuk menemukan sesuatu sebagai jawaban yang meyakinkan terhadap permasalahan yang dihadapkan kepadanya melalui proses pelacakan data dan informasi serta pemikiran yang logis, kritis dan sistematis. [5] Sedangkan menurut Roestiyah metode Inquiry merupakan: Suatu  teknik atau cara yang digunakan guru untuk mengajar di depan kelas. Adapun pelaksanaannya sebagai berikut: guru membagi tugas meneliti suatu masalah ke kelas, siswa dibagi menjadi kelompok, dan masing-masing kelompok mendapat tugas tertentu yang harus dikerjakan.[6]
            Sedangkan menurut Joyce and Weil prinsip dan norma yang dikandung dalam metode Inquiry adalah kerja sama, kebebasan intelektual, dan kesamaan derajat. Selanjutnya menyatakan bahwa selama proses Inquiry siswa saling berinteraksi dengan lain dan juga dengan gurunya.[7]
Ada beberapa hal yang menjadi ciri utama Inquiri learning, menurut Sanjaya, yaitu:
1.    Inquiri menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan.
2.    Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri.
3.    Tujuan dari penggunaan strategi pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental, akibatnya dalam pembelajaran inkuiri siswa tidak hanya dituntut agar menguasai pelajaran, akan tetapi bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang dimilikinya.

Inquiri learning merupakan bentuk pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada siswa (student centered approach). Dikatakan demikian sebab dalam strategi ini siswa dapat memegang peran yang sangat dominan dalam proses pembelajaran.[8] Strategi Pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan anilitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah.[9]

B.  Tujuan Pembelajaran Inquiry
Inkuiri merupakan suatu rangkaian kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan peserta didik untuk mencari dan menyelidiki  secara sistematis, kritis, dan logis sehingga mereka dapat menemukan sendiri pengetahuan, sikap dan keterampilan sebagai wujud adanya perubahan prilaku.[10] Menurut Hamzah pembelajaran inquiry bertujuan untuk melatih kemampuan siswa dalam meneliti, menjelaskan fenomena, dan memecahkan masalah secara ilmiah. Karena secara intuitif setiap individu cenderung malakukan kegiatan ilmiah (mencari tahu dan memecahkan masalah). Kemampuan tersebut akan dilatih sehingga setiap individu kelak dapat melakukan kegiatan ilmiahnya secara sadar (tidak intuitif lagi) dan dengan prosedur yang benar.[11]
Tujuaan inquiri learning adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental. Berdasarkan pelaksanaan metode Inquiry yaitu dengan pembagian kelompok yang mana pada setiap kelompok mendapat tugas masing-masing yang kemudian didiskusikan dan membuat kesimpulan yang berupa laporan. Pelaksanaan tersebut tentulah memiliki tujuan tertentu, yaitu bertujuan: Agar siswa terangsang oleh tugas, dan aktif mencari serta meneliti sendiri pemecahan masalah itu. Mencari sumber sendiri, dan mereka belajar bersama dalam kelompok. Diharapkan juga siswa mampu mengemukakan pendapatnya.[12]
Dan Menurut Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasetya diskusi dalam pengajaran Inquiry diharapkan terjadi interaksi dan peran guru yaitu sebagai berikut:
Interaksi  antara siswa, guru, dan terutama juga diharapkan terjadinya interaksi antara siswa-siswa secara optimal. Pada diskusi, guru dapat mengarahkan kegiatan-kegiatan mental siswa sesuai dengan yang telah direncanakan. Siswa lebih banyak terlibat sehingga tidak hanya mendengarkan informasi atau ceramah dari guru saja, melainkan mendapat kesempatan untuk berfikir. Agar mereka dapat merumuskan jawaban-jawaban dari masalah-masalah yang disajikan dalam diskusi,mereka harus aktif berpikir.[13]

C.  Aplikasi Pembelajaran Inquiry Pada Kegiatan Pembelajaran PAI
Awalnya pembelajaran ini digunakan untuk mengajarkan ilmu pengetahuan alam, namun selanjutnya dapat digunakan untuk semua mata pelajaran. Semua topik mata pelajaran dapat digunakan sebagai suatu situasi masalah yang dapat dilontarkan oleh guru untuk melatih siswa cara berfikir ilmiah. Kunci utamanya terletak pada upaya memformulasikan suatu masalah yang menarik, misterius, dan menantang bagi siswa agar mampu berfikir ilmiah, seperti :
1.    Keterampilan melakukan pengamatan, pengumpulan, dan pengorganisasian data termasuk merumuskan dan menguji hipotesis serta menjelaskan fenomena,
2.    Kemandirian belajar,
3.    Keterampilan mengekspresikan secara verbal,
4.    Kemampuan berpikir logis,
5.    Kesadaran bahwa ilmu bersifat dinamis dan tentatif[14]
Menurut Oemar Hamalik pelaksanaan Inquiry kelompok di dalam kelas dilaksanakan oleh kelompok-kelompok yang terdiri dari enam kelompok, masing-masing terdiri dari lima orang siswa, dan tiap anggota melakukan peran tertentu, yakni sebagai berikut:
 a.  Pemimpin kelompok, bertanggung jawab memulai diskusi, menyiapkan kelompok untuk mengerjakan tugas dan melengkapi tugas-tugas, menyampaikan informasi kepada kelas atau kepada kelompok lainnya.
  b.    Pencatat (recorder), membuat dan memelihara catatan, dan materi catatan kelompok baik yang dibuat pada waktu berdiskusi maupun membagikannya kepada anggota kelompok.
   c.     Pemantau diskusi (discussion monitor, beupaya memastikan bahwa diskusi berlangsung lancar dan semua pendapat disampaikan dan dibahas dalam diskusi.
 d. Pendorong (prompter), mendorong tiap anggota agar memberi konstribusi dan mencoba menggambarkan penjelasan yang lebih rinci dari para anggota kelompok.
 e.  Pembuat rangkuman (summarizer), selama berlangsungnya diskusi dan pada waktu menarik kesimpulan pada setiap pertemuan inquiri, merangkum butir-butir pokok yang muncul.
  f.     Pengacara (advocate), bertugas melakukan dan memberikan pendapat bandingan terhadap argumen yang disampaikan dalam diskusi terhadap pendapat yang diajukan oleh kelompok lainnya.
Dengan adanya enam kelompok yang memiliki tugas masing-masing tersebut diharapkan mampu mengefektifkan kelompok dan melatih siswa untuk bertanggungjawab dengan tugas kelompok masing-masing sehingga pelaksanaan diskusi berjalan dengan lancar. [15]
Siswa benar-benar ditempatkan sebagai subjek yang belajar. Peranan guru dalam pembelajaran PAI dengan metode inquiry adalah sebagai pembimbing dan fasilitator. Tugas guru adalah memilih masalah yang perlu disampaikan kepada siswa untuk dipecahkan. Namun dimungkinkan juga bahwa masalah yang akan dipecahkan dipilih oleh siswa. Tugas guru selanjutnya adalah menyediakan sumber belajar bagi siswa dalam rangka memecahkan masalah. Bimbingan dan pengawasan guru masih diperlukan, tetapi intervensi terhadap kegiatan siswa dalam pemecahan masalah harus dikurangi.[16]

D.  Langkah-Langkah Pembelajaran Inquiry
Dalam penerapan metode Inquiry tidak lepas dari langkah-langkah yang harus ditempuh oleh guru, sehingga dalam pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan tujuan. Secara umum menurut Wina Sanjaya, proses pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran Inquiry dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:[17]
             1.     Orientasi
Pada tahap ini guru melakukan langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang kondusif. Hal yang dilakukan dalam tahap orientasi ini adalah:
a.    Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa
b.    Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan. Pada tahap ini dijelaskan langkah-langkah inkuiri serta tujuan setiap langkah, mulai dari langkah merumuskan merumuskan masalah sampai dengan merumuskan kesimpulan
c.    Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar. Hal ini dilakukan dalam rangka memberikan motivasi belajar siswa.

             2.     Merumuskan masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk memecahkan teka-teki itu. Teka-teki dalam rumusan masalah tentu ada jawabannya, dan siswa didorong untuk mencari jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting dalam pembelajaran inkuiri, oleh karena itu melalui proses tersebut siswa akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya mengembangkan mental melalui proses berpikir.

             3.     Mengajukan hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap anak adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji.

             4.     Mengumpulkan data
            Mengumpulkan data adalah aktifitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses pemgumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi berpikirnya.

             5.     Menguji Hipotesis
Menguji hipotesis adalah menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Menguji hipotesis juga berarti mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.

             6.     Merumuskan kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data mana yang relevan.
Menurut Ismail Sukardi Secara umum inquiry –discovery learning dapat dipahami sebagai belajar mencari dan menemukan masalah. Dalam pendekatan ini guru menyajikan bahan pelajaran tidak dalam bentuk yang final, tetapi anak didik diberi peluang untuk mencari dan menemukan sendiri dengan mempergunakan teknik pendekatan pemecah masalah. Prosedur/langkah-langkah yang ditempuh dalam pendekatan ini adalah sebagai berikut:
1.    Simulation.
Dalam kegiatan ini guru mulai bertanya dengan mengajukan persoalan, atau menyuruh anak didik membaca atau mendengarkan uraian yang memuat permasalahan.

2.    Problem statement.
Siswa diberi kesempatan mengidentifikasi berbagai per masalahan dan memilih masalah yang dianggap paling menarik dan fleksibel untuk dipecahkan. Selanjutnya permasalahan yang dipilih itu dirumuskan dalam bentuk pertanyaan hipotesis, yakni pernyataan (statement) sebagai jawab sementara atas pertanyaan yang diajukan.

3.    Data collection.
Dalam rangka menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis ini, siswa selanjutnya diberikan kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai informasi yang relevan dengan cara membaca literature, mengamati objek, wawancara dengan narasumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya.

4.    Data Processing.
Hasil bacaan, hasil wawancara dan observasi, informasi ,dan sebagainya semuanya diolah, diklasifikasikan, ditabulasi bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu.

5.    Verification atau pembuktian.
Dari pengolahan dan tafsiran terhadap informasi yang ada, pernyataan hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu itu kemudian dicek apakah terjawab/ terbukti atau tidak.

6.    Generalization.
Dari hasil pembuktian hipotesis diatas siswa kemudian menarik kesimpulan atau generalisasi.[18]

E.  Desain Pembelajaran Berbasis Inquiry Pada Mata Pelajaran PAI di SD
Desain adalah sebuah istilah yang diambil dari kata design (Bahasa Inggris) yang berarti perencanaan atau rancangan. Ada pula yang mengartikan dengan “persiapan”.Di dalam ilmu manajemen pendidikan atau ilmu administrasi pendidikan, perencanaan disebut dengan istilah planning yaitu “persiapan menyusun suatu keputusan berupa langkah-langkah penyelesaian suatu masalah atau pelaksanaan suatu pekerjaan yang terarah pada pencapaian tujuan tertentu”.[19] Dalam Kamus Bahasa Indonesia Desain artinya kerangka bentuk, rancangan dan motiv.[20]
Perencanaan atau perancangan (desain), yakni suatu cara yang memuaskan untuk membuat suatu kegiatan dapat berjalan dengan baik, disertai dengan berbagai langkah antisipatif guna memperkecil kesenjangan yang terjadi sehingga kegiatan tersebut mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam hal ini, istilah pembelajaran memiliki hakikat perencanaan atau perancangan (desain) sebagai upaya untuk membelajarkan siswa. Itulah sebabnya dalam belajar siswa tidak hanya berinteraksi dengan guru sebagai salah satu sumber belajar, tetapi berinteraksi dengan keseluruhan sumber belajar yang mungkin dicapai untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Oleh karena itu pembelajaran menaruh perhatian pada bagaimana membelajarkan siswa,dan bukan pada apa yang dipelajari siswa.[21]
Desain pembelajaran pada dasarnya merupakan pengelolaan dan pengembangan yang dilakukan terhadap komponen-komponen pembelajaran. Karena itu, Rusman berpendapat bahwa seorang guru sebelum melakukan kegiatan pembelajaran terlebih dahulu membuat desain atau perencanaan pembelajaran. Dalam mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) seorang guru harus menggunakan model desain yang dianggap cocok untuk dikembangkan.[22] Dalam kaitan ini, hal-hal yang tidak bisa dilupakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah tentang bagaimana cara mengorganisasi pembelajaran, bagaimana menyampaikan isi pembelajaran, dan bagaimana menata interaksi antara sumber-sumber belajar yang ada agar dapat berfungsi secara optimal.[23]
Pembelajaran pendidikan agama Islam adalah suatu proses yang bertujuan untuk membantu siswa dalam belajar agama Islam. Tujuan dari desain pembelajaran pendidikan agama Islam adalah untuk mengaktifkan dan mendukung pembelajaran siswa secara individu.Tujuan ini merupakan karakteristik dimana pun pembelajaran pendidikan agama Islam itu terjadi atau berlangsung, pembelajaran pendidikan agama Islam akan lebih membantu siswa dalam memaksimalkan kecerdasan yang ia miliki, menikmati kehidupan serta kemampuan untuk berinteraksi secara fisik dan sosial terhadap lingkungan.[24]
Desain pembelajaran sangat berpangaruh terhadap pembentukan karakter peserta didik, guru agama Islam memiliki tugas dan tanggungjawab yang berat dalam merancang pelaksanaan pembelajaran sehingga pembelajaran agama Islam bisa berjalan dengan aktif dan efesien. Sebagai seorang guru harus berhati-hati dalam merancang sebuah pembelajaran, oleh sebab itu pentingnya desain pembelajaran sehingga guru pendidikan agama Islam mampu menyusun dan menentukan strategi, metode dan menentukan evaluasi yang tepat.[25]





BAB III
PENUTUP


Kesimpulan

Strategi Pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan anilitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah. Tujuaan inquiri learning adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental.
Awalnya pembelajaran ini digunakan untuk mengajarkan ilmu pengetahuan alam, namun selanjutnya dapat digunakan untuk semua mata pelajaran termasuk Pendidikan Agama Islam (PAI). Semua topik mata pelajaran dapat digunakan sebagai suatu situasi masalah yang dapat dilontarkan oleh guru untuk melatih siswa cara berfikir ilmiah.
Secara umum menurut Wina Sanjaya, proses pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran Inquiry dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
a.  Orientasi
b.  Merumuskan masalah
c.   Mengajukan hipotesis
d.  Mengumpulkan data
e.   Menguji Hipotesis
f.    Merumuskan kesimpulan
Dalam mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) seorang guru harus menggunakan model desain yang dianggap cocok untuk dikembangkan. Desain pembelajaran sangat berpangaruh terhadap pembentukan karakter peserta didik. Oleh karena itu, guru harus berhati-hati dalam merancang sebuah pembelajaran.





DAFTAR PUSTAKA


Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasetyo. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia.2005
Ahmad Rohani. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta. 2004
Hamruni. Strategi Pembelajaran. Yogyakarta: Insan Madani.2012
Hamzah B.Uno.Model Pembelajaran: Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: PT Bumi Aksara.2008
Isjoni. Cooperative Learning; Efektifitas Pembelajaran Kelompok. cet.ke-II. Bandung: Alfabeta.2009
Ismail Sukardi, Model-Model Pembelajaran Modern, 2013,Palembang: Tunas Gemilang Press, Hal 34-35
Muhaimin,et.all.Paradigma Pendidikan Islam; Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah. cet.ke-III.Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.2004
Mukhtar. Desain Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.Jakarta: MisakaGaliza. 2003.
Oemar Hamalik.Proses Belajar Mengajar.Jakarta:PT.Bumi Aksara.2010
Rusman. Model-Model  Pembelajaran Pengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: RajawaliPers. 2010
Roestiyah.Strategi Belajar Mengajar.Jakarta: Rineka Cipta.1991
Slamento. Proses Balajar Mengajar Dalam Kredit Semester SKS. Jakarta: Bumi Aksara. 1993
Wina Sanjaya. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.2008
Zubaedi. Desain Pendidikan Karakter Konsepsi dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan. Jakarta: Kencana. 2012



[1]Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Bumi Aksara,2001), hal. 201
[2]Hamruni, Strategi Pembelajaran , ( Yogyakarta: Insan Madani, 2012), hlm. 1
[3]Isjoni, Cooperative Learning; Efektifitas Pembelajaran Kelompok, cet. ke-II, (Bandung: Alfabeta,2009), hal.11
              [4]Muhaimin, et.all, Paradigma Pendidikan Islam; Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah,cet.ke-III, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,2004), hal. 145               
[5]Slamento,  Proses Balajar Mengajar Dalam Kredit Semester SKS, (Jakarta: Bumi Aksara,1993), hlm. 116
[6]Roestiyah, Strategi Belajar Mengajar, ( Jakarta: Rineka Cipta,1991), hlm. 75.
[7] Joyce and Weil,Models of Teaching,Prentice , Hall International,1986, hlm. 57.
[8]Wina Sanjaya,  Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2006) hal.194-196
[9]Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta: Kencana, 2008), hal189-194.
[10]Hamruni, Op.Cit, hlm 87
[11]Hamzah B.Uno,  Model Pembelajaran: Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2008), hal. 14-15
[12]Roestiyah,Op.Cit, hal. 75
[13]Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasetyo, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung: Pustaka Setia,2005), hal.46

[14]Hamzah B.Uno,Op.Cit, hal.16
[15]Oemar Hamalik, Op.Cit, hal. 221
[16]Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran (Bandung : Alfabeta 2010), hlm.13.
[17]Wina Sanjaya.Op.Cit, hal.202
[18]Ismail Sukardi, Model-Model Pembelajaran Modern, (Palembang: Tunas Gemilang Press, 2013),Hal 34-35
[19]Ahmad Rohani, Pengelolaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hal. 67
[20]Em Zul Fajri-Ratu Aprilia Sagala, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Difa Publishe,), h. 249.
[21]I Nyoman Sudana Degeng, Buku Pegangan Teknologi Pendidikan,Pusat Antaruniversitas Untuk Peningkatan dan Pengembangan Aktivitas Intruksional Universitas Terbuka, (Depdikbud RI, Dirjen Dikti: Jakarta, 1993), hal.2
[22]Rusman, Model-Model  Pembelajaran Pengembangkan Profesionalisme Guru, (Cet. I; Jakarta: RajawaliPers, 2010), hal. 147.
[23]Hamzah B.Uno,Op.Cit, hal.83-84.
[24]Mukhtar, DesainPembelajaranPendidikan Agama Islam, (Cet. I ; Jakarta: MisakaGaliza, 2003), hal. 13.   
[25]Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter Konsepsi dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan, (Cet. II; Jakarta: Kencana, 2012), hal. 7.

1 komentar:

 
Islam Crescent Moon